Home » Donald Trump, Eks Presiden AS yang Didakwa Pidana

Donald Trump, Eks Presiden AS yang Didakwa Pidana

by Indienesia
Published: Last Updated on


Eks Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyerahkan diri ke Kantor Kejaksaan Distrik Manhattan, New York City, pada Selasa (4/4) ini. Trump akan menghadapi lebih dari 30 dakwaan dari dewan juri Manhattan yang terkait dengan penipuan bisnis dan terancam menghadapi tuntutan pidana.

Sebelumnya, pada Jumat (31/3) lalu, Jaksa Alvin Bragg mengumumkan ihwal rencana penyerahan diri Trump melalui twitter @ManhattanDA. Pernyataan itu berbunyi, “Kami telah menghubungi pengacara Mr.Trump untuk mengkoordinasikan penyerahannya ke Kantor Kejaksaan Manhattan untuk (menghadapi) dakwaan yang masih dirahasiakan. Panduan akan diberikan lebih lanjut ketika tanggal dakwaan telah ditetapkan.”

Hingga saat ini, kantor kejaksaan untuk wilayah New York itu belum mempublikasikan secara resmi ihwal dakwaan yang diarahkan ke mantan orang nomor satu Amerika Serikat itu. Jaksa Alvin dalam beberapa wawancara media mengatakan kemungkinan untuk menuntut Trump secara pidana atas penyelewengan yang dilakukan perusahaannya.

 

USA-ELECTION/TRUMP (ANTARA FOTO/REUTERS/Gaelen Morse/foc/sad.)

 

 

Mereka yang Mengungkap Kejahatan Bisnis Trump

Sejak beberapa tahun lalu, Kantor Kejaksaan Distrik Manhattan sangat serius menginvestigasi kejahatan pajak yang dilakukan oleh Trump Organization. Pada (7/4/2022) kantor kejaksaan itu mengeluarkan rilis resmi yang menyatakan investigasi terhadap Trump Organization tengah berlangsung yang dipimpin oleh Kepala Divisi Investigasi Susan Hoffinger.

Dalam pernyataan resmi tersebut, Jaksa Alvin Bragg memaparkan berbagai pengalaman Susan Hoffinger dalam mengawal dan menginvestigasi berbagai kasus sebagai asisten jaksa di New York. “Sebagai jaksa negara bagian dan jaksa federal di Distrik Selatan New York, saya berhasil mengawal kasus yang melibatkan pencucian uang, penyuapan, perusakan barang bukti dan saksi, penipuan hipotek, dan berbagai pelanggaran,” kata dia.

Ia menyebutkan pula rekam jejaknya yang pernah menuntut dua wali kota, seorang anggota dewan kota, seorang agen FBI, mantan pimpinan senat, seorang jaksa wilayah, dan seorang eksekutif bisnis. Dengan rekam jejaknya itu, ia memberikan jaminan pantang mundur dalam menyelesaikan perkara yang melibatkan Trump. “Saya mengikuti ke mana pun fakta membawa saya.”

Baca Juga:   Tergantung Kebutuhan, Jumlah Anggaran Pemilu Dinilai Relatif

Bragg menjabarkan kerahasiaan penyelidikan yang dilakukan atas organisasi Trump sebagai sebuah mandat agar tidak mempengaruhi jalannya investigasi itu sendiri. “Saya berjanji kelak akan menyatakan secara terbuka kesimpulan dari penyelidikan-apakah kami akan menyelesaikannya tanpa mengajukan tuntutan atau melanjutkannya dengan dakwaan,” kata dia.

Desember lalu, Bragg menunjukkan keseriusannya dengan melibatkan mantan pejabat senior Departemen Kehakiman, Matthew Colangelo, yang pernah menangani perkara bisnis Donald J. Trump dan keluarganya. Sementara itu, Susan Hoffinger memutar kemudinya untuk fokus pada penyuapan yang diduga dilakukan Trump kepada seorang bintang porno, Stormy Daniels dan model Karen McDougal.

Trump diduga membayar sejumlah US$130 ribu sebagai uang tutup mulut atas skandal seksual Trump selama kampanye 2016 silam, namun mencatatkannya sebagai biaya hukum untuk pengacaranya saat itu, Michael Cohen. Cohen sebelumnya telah mengaku bersalah atas kejahatan federal, termasuk melanggar undang-undang keuangan kampanye dalam memfasilitasi pembayaran Daniels.

 

Investigasi Berujung Denda US$1,6 juta dan Penjara

Pada Januari lalu, penyelidikan atas perusahaan Trump itu berbuah pada denda sebesar US$1,6 juta. Hakim menyetujui untuk mendenda Trump Corp. sebesar US$810 ribu dan Trump Payroll sebesar US$800 ribu. Kedua perusahaan itu adalah anak usaha dari Trump Organization.

Trump Organization didakwa melakukan penyelewengan pajak penghasilan pribadi hingga pemalsuan catatan bisnis. Total ada 17 kejahatan pajak yang dialamatkan ke perusahaan tersebut.

Perusahaan Trump diberi waktu 14 hari untuk membayar denda tersebut. Pada saat itu, Trump mengelak dari tuduhan mengetahui dan menjalankan berbagai skema penghindaran dan penipuan pajak yang dilakukan oleh para eksekutif yang mengendalikan perusahaannya.

Di bulan yang sama, eks Direktur Keuangan Trump Organization Allen Weisselberg dijatuhi hukuman lima bulan penjara setelah mengaku bersalah atas berbagai kejahatan pajak kerajaan bisnis Trump. Mantan Chief Financial Officer berusia 75 tahun itu bersaksi melawan Trump dan menjalani masa penjaranya di Pulau Rikers.

Baca Juga:   Jokowi Ucapkan Belasungkawa Atas Wafatnya Tjahjo Kumolo

Weisselberg juga disebut telah membayar lebih dari US$2 juta dalam bentuk pajak dan denda sebagai bagian dari kesepakatan pembelaan yang dapat meringankan hukumannya. Weisselberg dan kerajaan bisnis Trump pertama kali didakwa pada Juni 2021. Ia juga dijatuhi hukuman lima tahun masa percobaan.

Sementara itu, Michael Cohen telah lebih dulu dijatuhi hukuman penjara pada Desember 2018 setelah pengakuannya atas biaya kampanye, kebohongan pada kongres, dan sejumlah kejahatan lainnya terkait dengan Trump. Ia menghabiskan hukuman 13,5 bulan dalam penjara dan 1,5 tahun sebagai tahanan rumah.

Hingga penyerahan dirinya, Trump masih menyangkal seluruh tuduhan yang diarahkan kepadanya, termasuk skandal seksual dan penggelapan pajak. Trump sempat mengancam jaksa Bragg dan mengatakan jaksa tersebut sebagai psikopat. Ia meyakini tuduhan demi tuduhan yang dialamatkan kepadanya didasari oleh kepentingan politik.

Kerajaan Bisnis Trump

Sebelum menjabat sebagai presiden, Trump dikenal sebagai pebisnis wahid di Negeri Paman Sam tersebut. Pria kelahiran 14 Juni 1946 itu mengelola 500 unit bisnis yang tersebar di 19 negara (termasuk negara bagian Amerika Serikat) di bawah naungan The Trump Organization.

Trump bukan pendiri pertama organisasi bisnis yang berdiri sejak 1927 itu. Ia mewarisinya dari neneknya Elizabeth Christ Trump yang diturunkan ke ayahnya, Fred Trump. Ia memulai karier kepemimpinannya dalam organisasi itu pada 1971 dan menyerahkan estafet kepemimpinan pada 2016.

Trump Organization memiliki beragam bisnis di berbagai sektor, mulai dari bisnis real estate, investasi, resort, hotel, lapangan golf, minuman keras, agensi model, online travel, hingga di industri makanan dan minuman. Di sektor ritel, bisnisnya merambah ke penjualan berlian, peralatan rumah tangga, air minum dalam kemasan, pewangi rumah, dan berbagai aksesoris fashion.

Baca Juga:   Deklarasikan 14 Etika Bermedia Sosial, Begini Harapan BPIP – Farmasi

Salah satu bisnis yang membesarkannya adalah pembangunan Grand Hyatt New York yang dibuka pada 1980, bekerja sama dengan Hyatt. Pembangunan hotel yang berada di Manhattan ini dilakukan dengan merenovasi Hotel Commodore. Setelah itu, berturut-turut ia membangun Trump Tower yang bekerja sama dengan The Equitable pada 1983, dan membangun Trump Plaza pada 1984. Ia juga merambah ke bisnis kasino dengan membuka tiga hotel kasino.

Pada 2018, fraud yang dilakukan Trump Organization mulai terendus. Setahun setelahnya, investigator New York mengungkapkan dugaan penyimpangan keuangan itu kepada publik dan Kantor Kejaksaan Distrik Manhattan memulai penyelidikan atas dugaan tersebut.

 

 

 

 

 



Source link

Lainnya Dari Indienesia

Copyright © 2023 Indienesia. All Rights Reserved.

close